Senin, 28 September 2009

Kepada Puisi

Kepada puisi
Aku jeritkan tangis hati
Untuk memendam belatiku sendiri

Mata merah meneteskan darah
Dalam mata air membanjir

Kepada puisi aku teriakkan
Amarah dari goa yang paling dalam

Membakar
Berkobar
Bara berloncatan

Kamis, 10 September 2009

Wajahnya

Pancaran wajahnya
Menyayat membekas dalam sebuah luka
Di depan mata
Apa namanya?
Belum pernah kutahu ia

Betapa aku terjatuh dalam diam
Diantara kata-katamu yang diam tentang segala
Yang pernah singgah di dalam jiwa
Menidurkanku dengan cahaya
Untuk bermimpi dalam diam
Tentang semuanya

Mama!
Betapa cantiknya dia!
Membuat manusia yang mana yang tak berucap puja
Dalam diam jua

Dari Hati Ke Hati

Dari hati ke hati
Kulantunkan pujian-pujian
Apakah tanpa makna?
Akupun tak tahu-menahu
Ketika hati selalu resah dulu
Siapa yang akan tahu?

Resah yang mendesah
Tanpa harap meluap
mendalam dan kelam
Berpalung gelap gulita
Seribu pintu rahasia

Sendiri melantunkan pujian hati
Menikmati kesunyian diri
Dalam padang pasir panas
Yang mengganas

Wajah Dalam Remang

Wajah-wajah yang nestapa
Penuh dosa
Tertawa diantara suara kucuran minuman
Ada yang bertopeng
Ada yang bopeng
Remang-remang lampu kerlap-kerlip
Dalam sebuah diskotik
Hitam
Sehitam malam
Suara dentum musik
Berisik mengusik
Sama seperti jangkrik

Senin, 07 September 2009

Negeri Impian

Ceritakan kepadaku
Tentang negeri asalmu yang indah
Diantara awan putih menyelimuti bukit-bukitnya
Dan halimun selembut sutera

Tentang negeri asalmu
Dimana pohon ara tumbuh menghijau
Banyak yang menginginkan buahnya
Segala jenis margasatwa

Tentang negeri asalmu
Banyak berdiri istana megah
Berdinding batu pualam ungu
Menaranya menjulang tinggi
Menggapai awan-awan melintas tertiup angin
Berlantai batu jamrud hijau muda

Tentang negeri asalmu
Dengan keindahan yang tak terduga

Pesonamu

Pesonamu membangunkan hatiku yang tertidur
Tidur panjang di musim dingin
Dalam gua di kutub utara
Putih bersih

Pesonamu menghangatkan hatiku
Dengan sinarnya yang lembut membelai rambut
Angin sepoi senja hari
Sejuk tak berperi

Pesonamu menyinari mataku
Terlihat indah warna-warni disana
Berkilauan memestakan dirinya
Pesta malam tahun baru

Pesonamu batu permata
Menyusun sebuah bangunan istana
Dengan sepuluh menara
Untuk melihat jauh kesana

Anak-anakku

Anak-anakku
Yang terlahir bersama bunga musim semi
Sudah menangis itu pasti
Apakah mereka sedih?
Sayap-sayap mereka kecil
Tak bisa mengepak lagi kini
Ada yang tumbuh sebelah saja kini
Dimana yang satunya lagi?
Tubuh-tubuh mereka tak sempurna lagi
Tangisan memecah sunyi
Akankah mereka dirantai?
Atau tercampak di sungai?