Kepada puisi
Aku jeritkan tangis hati
Untuk memendam belatiku sendiri
Mata merah meneteskan darah
Dalam mata air membanjir
Kepada puisi aku teriakkan
Amarah dari goa yang paling dalam
Membakar
Berkobar
Bara berloncatan
Senin, 28 September 2009
Kamis, 10 September 2009
Wajahnya
Pancaran wajahnya
Menyayat membekas dalam sebuah luka
Di depan mata
Apa namanya?
Belum pernah kutahu ia
Betapa aku terjatuh dalam diam
Diantara kata-katamu yang diam tentang segala
Yang pernah singgah di dalam jiwa
Menidurkanku dengan cahaya
Untuk bermimpi dalam diam
Tentang semuanya
Mama!
Betapa cantiknya dia!
Membuat manusia yang mana yang tak berucap puja
Dalam diam jua
Menyayat membekas dalam sebuah luka
Di depan mata
Apa namanya?
Belum pernah kutahu ia
Betapa aku terjatuh dalam diam
Diantara kata-katamu yang diam tentang segala
Yang pernah singgah di dalam jiwa
Menidurkanku dengan cahaya
Untuk bermimpi dalam diam
Tentang semuanya
Mama!
Betapa cantiknya dia!
Membuat manusia yang mana yang tak berucap puja
Dalam diam jua
Dari Hati Ke Hati
Dari hati ke hati
Kulantunkan pujian-pujian
Apakah tanpa makna?
Akupun tak tahu-menahu
Ketika hati selalu resah dulu
Siapa yang akan tahu?
Resah yang mendesah
Tanpa harap meluap
mendalam dan kelam
Berpalung gelap gulita
Seribu pintu rahasia
Sendiri melantunkan pujian hati
Menikmati kesunyian diri
Dalam padang pasir panas
Yang mengganas
Kulantunkan pujian-pujian
Apakah tanpa makna?
Akupun tak tahu-menahu
Ketika hati selalu resah dulu
Siapa yang akan tahu?
Resah yang mendesah
Tanpa harap meluap
mendalam dan kelam
Berpalung gelap gulita
Seribu pintu rahasia
Sendiri melantunkan pujian hati
Menikmati kesunyian diri
Dalam padang pasir panas
Yang mengganas
Wajah Dalam Remang
Wajah-wajah yang nestapa
Penuh dosa
Tertawa diantara suara kucuran minuman
Ada yang bertopeng
Ada yang bopeng
Remang-remang lampu kerlap-kerlip
Dalam sebuah diskotik
Hitam
Sehitam malam
Suara dentum musik
Berisik mengusik
Sama seperti jangkrik
Penuh dosa
Tertawa diantara suara kucuran minuman
Ada yang bertopeng
Ada yang bopeng
Remang-remang lampu kerlap-kerlip
Dalam sebuah diskotik
Hitam
Sehitam malam
Suara dentum musik
Berisik mengusik
Sama seperti jangkrik
Senin, 07 September 2009
Negeri Impian
Ceritakan kepadaku
Tentang negeri asalmu yang indah
Diantara awan putih menyelimuti bukit-bukitnya
Dan halimun selembut sutera
Tentang negeri asalmu
Dimana pohon ara tumbuh menghijau
Banyak yang menginginkan buahnya
Segala jenis margasatwa
Tentang negeri asalmu
Banyak berdiri istana megah
Berdinding batu pualam ungu
Menaranya menjulang tinggi
Menggapai awan-awan melintas tertiup angin
Berlantai batu jamrud hijau muda
Tentang negeri asalmu
Dengan keindahan yang tak terduga
Tentang negeri asalmu yang indah
Diantara awan putih menyelimuti bukit-bukitnya
Dan halimun selembut sutera
Tentang negeri asalmu
Dimana pohon ara tumbuh menghijau
Banyak yang menginginkan buahnya
Segala jenis margasatwa
Tentang negeri asalmu
Banyak berdiri istana megah
Berdinding batu pualam ungu
Menaranya menjulang tinggi
Menggapai awan-awan melintas tertiup angin
Berlantai batu jamrud hijau muda
Tentang negeri asalmu
Dengan keindahan yang tak terduga
Pesonamu
Pesonamu membangunkan hatiku yang tertidur
Tidur panjang di musim dingin
Dalam gua di kutub utara
Putih bersih
Pesonamu menghangatkan hatiku
Dengan sinarnya yang lembut membelai rambut
Angin sepoi senja hari
Sejuk tak berperi
Pesonamu menyinari mataku
Terlihat indah warna-warni disana
Berkilauan memestakan dirinya
Pesta malam tahun baru
Pesonamu batu permata
Menyusun sebuah bangunan istana
Dengan sepuluh menara
Untuk melihat jauh kesana
Tidur panjang di musim dingin
Dalam gua di kutub utara
Putih bersih
Pesonamu menghangatkan hatiku
Dengan sinarnya yang lembut membelai rambut
Angin sepoi senja hari
Sejuk tak berperi
Pesonamu menyinari mataku
Terlihat indah warna-warni disana
Berkilauan memestakan dirinya
Pesta malam tahun baru
Pesonamu batu permata
Menyusun sebuah bangunan istana
Dengan sepuluh menara
Untuk melihat jauh kesana
Anak-anakku
Anak-anakku
Yang terlahir bersama bunga musim semi
Sudah menangis itu pasti
Apakah mereka sedih?
Sayap-sayap mereka kecil
Tak bisa mengepak lagi kini
Ada yang tumbuh sebelah saja kini
Dimana yang satunya lagi?
Tubuh-tubuh mereka tak sempurna lagi
Tangisan memecah sunyi
Akankah mereka dirantai?
Atau tercampak di sungai?
Yang terlahir bersama bunga musim semi
Sudah menangis itu pasti
Apakah mereka sedih?
Sayap-sayap mereka kecil
Tak bisa mengepak lagi kini
Ada yang tumbuh sebelah saja kini
Dimana yang satunya lagi?
Tubuh-tubuh mereka tak sempurna lagi
Tangisan memecah sunyi
Akankah mereka dirantai?
Atau tercampak di sungai?
Langganan:
Komentar (Atom)
