Putihnya lampu neon pinggir jalan
Menyumpahi jalan kampung
Ngengat beterbangan
Berputar mengelilinginya dengan penuh semangat
Lalu gerimis mulai turun
Tidak!
Meja disampingku tidak kosong
Disana ada segelas kopi susu untukku
Aku lebih suka berdiri menatap lampu
Dan tepi jalan berpagar bambu
Tidak!
Aku tak mau menduduki meja
Sudah pasti tak ada orang yang tahu
Jika aku mendudukinya
Minum kopi hangatnya
Walau aku pasti akan merasa bangga
Karena hari ini aku cukup dahaga
Dari sorot mata gadis pemilik rumah
Aku tahu kalau ia tak berteman
Dalam rumah sebesar ini
Darinya aku tahu betapa bergunanya
Kebun belakang rumah
Senin, 19 Oktober 2009
Matamu
Kuingin menatap matamu
Masih ingin kucari sesuatu disana
Namun sekarang kau begitu jauh
Kelebat rambutmu tak tersisa
Kau menjauhiku
Disaat kuingin menyentuhmu
Hilang tanpa sisa
Kapan kau akan kembali
Kapan bayangmu akan kulihat lagi
Aku merindukanmu
Walau hanya mata kita bicara
Karena kau tak mau berkata
Setiap kali kutanya
Hanya gelengan kepala
Kapan kau akan kembali
Masih ingin kucari sesuatu disana
Namun sekarang kau begitu jauh
Kelebat rambutmu tak tersisa
Kau menjauhiku
Disaat kuingin menyentuhmu
Hilang tanpa sisa
Kapan kau akan kembali
Kapan bayangmu akan kulihat lagi
Aku merindukanmu
Walau hanya mata kita bicara
Karena kau tak mau berkata
Setiap kali kutanya
Hanya gelengan kepala
Kapan kau akan kembali
Jam Pasir
Denting jam pasir dihatiku
Menyebutkan nama cantikmu
Diiringi irama cahaya merah
Di ufuk timur yang mulai menyala
Kubertanya kepada bantal gulingmu
Yang begitu jauh dari kenyataanku
Adakah ia semalam mendampingimu
Dalam kehangatan mimpi
tentang alam semesta dan galaksi-galaksi
Karena aku yakin tadi malam kau sendiri
Aku juga bertanya kepada selimutmu
Pagi ini mugkin belum sempat kau sentuh
Dengan kelembutan tanganmu
Untuk dilipat dan dirapikan
Setelah semalam menemanimu
Bantal gulingmu mungkin tetap dalam senyuman
Walau ia tak segera kau rapikan
Walau ia hanya kau lemparkan begitu saja
Di setiap pagimu
Mungkin kau tak memperdulikannya
Di sela denting waktu pagimu
Kau segera perlu buru-buru
Menuju kamar mandi
Untuk pipis tentunya
Karena semalam adalah perjalanan jauh
Naik kereta berkuda menuju semesta raya
Denting jam pasirku masih menyebutkan nama cantikmu
Dalam bayangan semu
Jam berdentang tanda pukul tuju
Lalu jam pasirku seolah berhenti
Saat air menyiram tubuhku
Dengan tarian mandi pagi
Menyebutkan nama cantikmu
Diiringi irama cahaya merah
Di ufuk timur yang mulai menyala
Kubertanya kepada bantal gulingmu
Yang begitu jauh dari kenyataanku
Adakah ia semalam mendampingimu
Dalam kehangatan mimpi
tentang alam semesta dan galaksi-galaksi
Karena aku yakin tadi malam kau sendiri
Aku juga bertanya kepada selimutmu
Pagi ini mugkin belum sempat kau sentuh
Dengan kelembutan tanganmu
Untuk dilipat dan dirapikan
Setelah semalam menemanimu
Bantal gulingmu mungkin tetap dalam senyuman
Walau ia tak segera kau rapikan
Walau ia hanya kau lemparkan begitu saja
Di setiap pagimu
Mungkin kau tak memperdulikannya
Di sela denting waktu pagimu
Kau segera perlu buru-buru
Menuju kamar mandi
Untuk pipis tentunya
Karena semalam adalah perjalanan jauh
Naik kereta berkuda menuju semesta raya
Denting jam pasirku masih menyebutkan nama cantikmu
Dalam bayangan semu
Jam berdentang tanda pukul tuju
Lalu jam pasirku seolah berhenti
Saat air menyiram tubuhku
Dengan tarian mandi pagi
Puisi Dan Bulan
Kutuliskan puisi ini
Dimalam bulan bersinar purnama
Namun ia terselimuti mega
Meski begitu jua
Takkan mengurangi sinar semangatnya untuk tetap berputar
Kutuliskan puisi ini
Karena sebuah rasa menggelora
Dimalam daun-daun berwarna keperakan
meski tak sejelas purnama tanpa mega
Rasa ini harus kutuliskan
Karena purnama telah menganjurkan
Pada saat kuberjalan pulang dari membeli sebungkus nasi
Dengan lauk ikan gurami
Seandainya dimalam indah ini
Dalam purnama yang terselimiti mega
kau ada disisiku dan benar-benar nyata
untuk melalui bersama rasa gembira
Wahai purnama dan mega
Sinarmu membuatku menyalakan rasa
Rasa dari dalam hatiku
Dan kupinta jua kepadamu
Sinarilah hati orang yang kucinta nun jauh disana
Demi kegairahan jua untuknya
Mugkin ia akan tersenyum dalam tawa
Bersama sinar purnama yang mungkin tanpa mega
Untuknya yang takkan pernah tahu rasa didalam hatiku
Kutuliskan puisi ini
Demi purnama yang memintaku membayangkan wajahnya saat ini
Terselimuti mega
Dimalam bulan bersinar purnama
Namun ia terselimuti mega
Meski begitu jua
Takkan mengurangi sinar semangatnya untuk tetap berputar
Kutuliskan puisi ini
Karena sebuah rasa menggelora
Dimalam daun-daun berwarna keperakan
meski tak sejelas purnama tanpa mega
Rasa ini harus kutuliskan
Karena purnama telah menganjurkan
Pada saat kuberjalan pulang dari membeli sebungkus nasi
Dengan lauk ikan gurami
Seandainya dimalam indah ini
Dalam purnama yang terselimiti mega
kau ada disisiku dan benar-benar nyata
untuk melalui bersama rasa gembira
Wahai purnama dan mega
Sinarmu membuatku menyalakan rasa
Rasa dari dalam hatiku
Dan kupinta jua kepadamu
Sinarilah hati orang yang kucinta nun jauh disana
Demi kegairahan jua untuknya
Mugkin ia akan tersenyum dalam tawa
Bersama sinar purnama yang mungkin tanpa mega
Untuknya yang takkan pernah tahu rasa didalam hatiku
Kutuliskan puisi ini
Demi purnama yang memintaku membayangkan wajahnya saat ini
Terselimuti mega
Menari Bersamamu
Aku ingin menari dan terus menari
Bersamamu malam ini
Malam riuh penuh suara canda-canda
Para bintang disana
Pegang tanganku ikatkan sebuah rindu
Wajahmu itu memancarkan cahaya biru
Senyummu lucu tak kuatkan aku
Untuk tidak menggandengmu
Menari ayo kita terus menari
Sebuah tarian suci tanda bangunnya hati
Dalam kesaksian mata bintang malam ini
Bersama melodi hati
Sang dewi rembulan lambaikan tangan
Kepada tarian suci kita
Tanda mata dari jiwanya
Dalam malam penuh kelana
Menari dan kita menari lagi
Dalam goyangan pinggul dan tangan
Hadirkan rasa dari dalam hati
Bunyi-bunyi yang bukan mimpi
Bersamamu malam ini
Malam riuh penuh suara canda-canda
Para bintang disana
Pegang tanganku ikatkan sebuah rindu
Wajahmu itu memancarkan cahaya biru
Senyummu lucu tak kuatkan aku
Untuk tidak menggandengmu
Menari ayo kita terus menari
Sebuah tarian suci tanda bangunnya hati
Dalam kesaksian mata bintang malam ini
Bersama melodi hati
Sang dewi rembulan lambaikan tangan
Kepada tarian suci kita
Tanda mata dari jiwanya
Dalam malam penuh kelana
Menari dan kita menari lagi
Dalam goyangan pinggul dan tangan
Hadirkan rasa dari dalam hati
Bunyi-bunyi yang bukan mimpi
Piano Sonata
Irama piano sonata
Membawa angan-angan terbang kesana
Menuju angkasa raya
Mengembara dalam alam maya
Sendirian namun mempesonakan
Dalam irama seribu rayuan
Mengajakku dalam lambaian tangan
Lentik jari-jemari menggoda
Seperti lembutnya rambut wanita
Melambaikan godaan
Membawa angan-angan terbang kesana
Menuju angkasa raya
Mengembara dalam alam maya
Sendirian namun mempesonakan
Dalam irama seribu rayuan
Mengajakku dalam lambaian tangan
Lentik jari-jemari menggoda
Seperti lembutnya rambut wanita
Melambaikan godaan
Langganan:
Komentar (Atom)
